Malam sudah terlalu tua
berjalan menyusuri lorong yang sering mereka sebut "kehidupan"
Berjalan dengan langkah tertatih sakit dan perih
akibat luka yang menganga lebar di kisi hati
sempat terlintas untuk menyerah, kalah!
Tapi aliran darah berkarat ini mengedor-gedor pikiranku
“jangan” katanya sunyi
“lanjutkan perjalananmu!”
“kau dan jiwamu belum lagi sampai!”
“jangan menyerah meringkuk dibalik selimut kucelmu
Jangan biarkan jari-jemari kematian menggenggam mu!”
Hendak kemana langkahku?
Sementara bayang-bayangku telah merebahkan bayangnya terlebih dahulu
Dan menyerah kalah
Tak ada yang pergi mencari tapakku
Aku tetap sendiri
Bisu angkat bicara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar