Rabu, 17 Juni 2009

pada suatu senja yang sendiri


Taman Menteng, senja itu.
Senja jingga berdebu.
Pohon-pohon yang berdiri tegak, acuh tak acuh masih menggeraikan warna senja lewat ranting rapuhnya.

Senja itu,
Dari rooftop gedung parkiran taman menteng.
aku sendirian.
Duduk di tepian gedung, aku juntaikan kakiku ke bawah, berpuluh-puluh meter di atas tanah. Tak ada rasa takut jatuh.

Dari rooftop gedung parkiran taman menteng.
aku yang sendirian.
tak perduli angin porak-porandakan rambut panjang ku yang tadi ku sisir rapi. tak ada rasa terusik.

Dari rooftop gedung parkiran taman menteng.
aku yang masih sendirian.
Masih asyik menggelar dialog cinta dengan bayanganku sendiri. Tak ada rasa sepi.

aku yang tetap sendirian
Memandang jauh ke langit, menantang cahaya matahari yang kian menipis. tak ada rasa jenuh.

Aku masih sendiri. Disini.

Entah untuk apa
Entah karena apa
Entah menunggu siapa
aku ada disini, senja ini.

Hanya aku sendiri.



Limbung

Malam sudah terlalu tua
berjalan menyusuri lorong yang sering mereka sebut "kehidupan"

Sendirian...

Entah ada apa didepan sana
Berjalan dengan langkah tertatih sakit dan perih
akibat luka yang menganga lebar di kisi hati

sudah sejauh ini aku berjalan
sempat terlintas untuk menyerah, kalah!
Tapi aliran darah berkarat ini mengedor-gedor pikiranku

“jangan” katanya sunyi

“lanjutkan perjalananmu!”

“kau dan jiwamu belum lagi sampai!”

“jangan menyerah meringkuk dibalik selimut kucelmu
Jangan biarkan jari-jemari kematian menggenggam mu!”

Tapi, aku lelah

Hendak kemana langkahku?

Sementara bayang-bayangku telah merebahkan bayangnya terlebih dahulu
Dan menyerah kalah

Detik waktu pun berkejaran
Tak ada yang pergi mencari tapakku
Aku tetap sendiri
Bisu angkat bicara

Aku limbung!

Bangsal

Petugas kesehatan berkata,
“Untuk orang miskin di bangsal itu.”
Sambil menunjuk sebuah ruang kosong


Terlihat ruang pengap dengan bau pesing
Para pasien duduk berhimpit-himpitan
Dan mereka harus menahan diri untuk tidak buang hajat
Sanitasi mati…


Seorang bapak tua tergeletak tak berdaya
Ditemani istrinya yang setia
Sama-sama menerawang, putus asa
Hampir setengah bulan tidak ada perubahan
Ada yang hanya didata dan ditinggal pergi begitu saja
Dokter punya alasan yang tepat, dinas ke luar kota.
Kapan mereka akan sembuh!?

kaya atau miskin, bukankah kita terlahir ke dunia sama?

...comforthing...

Kopi . Hujan . Menulis . Cinta . eau de merveille . Puisi . Filsafat . White rose . Hotpants . Putih . Bulan . London . Kucing . Red wine . Camera digital . Kings of convenience . Langit biru . Lampu kota di malam hari . Pelukan . Bergandengan tangan . Sandal jepit . Senja jingga . Foto . Donut . Komik . Guguran daun . Hembusan angin . Petikan gitar . Marshmallow . semangkuk keripik kentang . Kembang api . Prairie . dandelion. tertawa . pantai .

..that's what i called life...

selamat pagi

pagi ini.
seperti biasa, ketika sinar matahari pagi menerobos masuk sela-sela gorden dan menjatuhkan bayangannya pada sudut matamu.

pagi ini.
seperti biasa, saat alarm handphone berteriak kencang. kamu menggeliat menggapai bawah bantal untuk meraih nya, sejenak mematikan dengan mata menyipit melihat jam digital di display handphone. lalu,

"met pagi"
kamu dan senyuman pagimu. kamu dan kecupan pagimu di keningku.

selalu...di pagi hari..aku tersenyum

"met pagi juga..."

Aksara

Menulislah
Walau terkadang menulis hanya kan bangkitkan sedikit kenangan masa lalu dengannya.

jangan berhenti!
Ceritakanlah pada dunia, Meski mungkin sebagian diantara mereka tertawa.
Meski sebagian diantara mereka menganggap hidupmu terlalu menderita. Atau mungkin sebagaian diantara mereka menganggap dirimu bodoh hanya karna terlalu setia pada satu cinta.

Apapun itu…
menulislah.
Meski mungkin kau tak pandai menggunakan kata-kata berkilau.

Astral

Malam belum lagi redup
Tapi embun kental pagi ini menyeretku tenggelam
Dalam arus sunyi yang beku
Secangkir coklat hangat yang menemani pun tidak mampu cairkan hawa angkuh

Dia berdiri di pinggir tebing
Memandang lampu kota yang belum padam
Dengan rambut hitamnya yang berkilau ditempa cahaya bulan
Rupanya malam telah menyerap habis darahnya
Hingga menjadikan pucat kulitnya

Memandanginya
Dibawah pendaran cahaya bulan yang sunyi

Kau bangun lorong panjang yang pengap serupa labirin
Kau biarkan aku tersesat didalamnya
Kehilangan arah…

Percuma mencari petunjuk tentangmu
Kau tetap tak terpecahkan
Sebuah rahasia hidup didalammu

Siapakah kau?

Masih terasa getar bau tanah
Sisa hujan semalam
Dan jalanan kota yang licin basah karena hujan
dan terselimut pendaran cahaya lampu yang redup

Tak pernah kau jawab tangisku
Kau hanya bergerak meminjamkan bahumu
Untukku melepaskan bulir kristal ini dari ikatan mataku
Tanpa pernah bertanya kenapa

Senyummu menyakitkan!
Menghancurkan tanpa bekas
Meninggalkan tanpa jejak
Membuat tubuh ini jatuh satu persatu
Dan mati. . .