Rabu, 17 Juni 2009

pada suatu senja yang sendiri


Taman Menteng, senja itu.
Senja jingga berdebu.
Pohon-pohon yang berdiri tegak, acuh tak acuh masih menggeraikan warna senja lewat ranting rapuhnya.

Senja itu,
Dari rooftop gedung parkiran taman menteng.
aku sendirian.
Duduk di tepian gedung, aku juntaikan kakiku ke bawah, berpuluh-puluh meter di atas tanah. Tak ada rasa takut jatuh.

Dari rooftop gedung parkiran taman menteng.
aku yang sendirian.
tak perduli angin porak-porandakan rambut panjang ku yang tadi ku sisir rapi. tak ada rasa terusik.

Dari rooftop gedung parkiran taman menteng.
aku yang masih sendirian.
Masih asyik menggelar dialog cinta dengan bayanganku sendiri. Tak ada rasa sepi.

aku yang tetap sendirian
Memandang jauh ke langit, menantang cahaya matahari yang kian menipis. tak ada rasa jenuh.

Aku masih sendiri. Disini.

Entah untuk apa
Entah karena apa
Entah menunggu siapa
aku ada disini, senja ini.

Hanya aku sendiri.



Limbung

Malam sudah terlalu tua
berjalan menyusuri lorong yang sering mereka sebut "kehidupan"

Sendirian...

Entah ada apa didepan sana
Berjalan dengan langkah tertatih sakit dan perih
akibat luka yang menganga lebar di kisi hati

sudah sejauh ini aku berjalan
sempat terlintas untuk menyerah, kalah!
Tapi aliran darah berkarat ini mengedor-gedor pikiranku

“jangan” katanya sunyi

“lanjutkan perjalananmu!”

“kau dan jiwamu belum lagi sampai!”

“jangan menyerah meringkuk dibalik selimut kucelmu
Jangan biarkan jari-jemari kematian menggenggam mu!”

Tapi, aku lelah

Hendak kemana langkahku?

Sementara bayang-bayangku telah merebahkan bayangnya terlebih dahulu
Dan menyerah kalah

Detik waktu pun berkejaran
Tak ada yang pergi mencari tapakku
Aku tetap sendiri
Bisu angkat bicara

Aku limbung!

Bangsal

Petugas kesehatan berkata,
“Untuk orang miskin di bangsal itu.”
Sambil menunjuk sebuah ruang kosong


Terlihat ruang pengap dengan bau pesing
Para pasien duduk berhimpit-himpitan
Dan mereka harus menahan diri untuk tidak buang hajat
Sanitasi mati…


Seorang bapak tua tergeletak tak berdaya
Ditemani istrinya yang setia
Sama-sama menerawang, putus asa
Hampir setengah bulan tidak ada perubahan
Ada yang hanya didata dan ditinggal pergi begitu saja
Dokter punya alasan yang tepat, dinas ke luar kota.
Kapan mereka akan sembuh!?

kaya atau miskin, bukankah kita terlahir ke dunia sama?

...comforthing...

Kopi . Hujan . Menulis . Cinta . eau de merveille . Puisi . Filsafat . White rose . Hotpants . Putih . Bulan . London . Kucing . Red wine . Camera digital . Kings of convenience . Langit biru . Lampu kota di malam hari . Pelukan . Bergandengan tangan . Sandal jepit . Senja jingga . Foto . Donut . Komik . Guguran daun . Hembusan angin . Petikan gitar . Marshmallow . semangkuk keripik kentang . Kembang api . Prairie . dandelion. tertawa . pantai .

..that's what i called life...

selamat pagi

pagi ini.
seperti biasa, ketika sinar matahari pagi menerobos masuk sela-sela gorden dan menjatuhkan bayangannya pada sudut matamu.

pagi ini.
seperti biasa, saat alarm handphone berteriak kencang. kamu menggeliat menggapai bawah bantal untuk meraih nya, sejenak mematikan dengan mata menyipit melihat jam digital di display handphone. lalu,

"met pagi"
kamu dan senyuman pagimu. kamu dan kecupan pagimu di keningku.

selalu...di pagi hari..aku tersenyum

"met pagi juga..."

Aksara

Menulislah
Walau terkadang menulis hanya kan bangkitkan sedikit kenangan masa lalu dengannya.

jangan berhenti!
Ceritakanlah pada dunia, Meski mungkin sebagian diantara mereka tertawa.
Meski sebagian diantara mereka menganggap hidupmu terlalu menderita. Atau mungkin sebagaian diantara mereka menganggap dirimu bodoh hanya karna terlalu setia pada satu cinta.

Apapun itu…
menulislah.
Meski mungkin kau tak pandai menggunakan kata-kata berkilau.

Astral

Malam belum lagi redup
Tapi embun kental pagi ini menyeretku tenggelam
Dalam arus sunyi yang beku
Secangkir coklat hangat yang menemani pun tidak mampu cairkan hawa angkuh

Dia berdiri di pinggir tebing
Memandang lampu kota yang belum padam
Dengan rambut hitamnya yang berkilau ditempa cahaya bulan
Rupanya malam telah menyerap habis darahnya
Hingga menjadikan pucat kulitnya

Memandanginya
Dibawah pendaran cahaya bulan yang sunyi

Kau bangun lorong panjang yang pengap serupa labirin
Kau biarkan aku tersesat didalamnya
Kehilangan arah…

Percuma mencari petunjuk tentangmu
Kau tetap tak terpecahkan
Sebuah rahasia hidup didalammu

Siapakah kau?

Masih terasa getar bau tanah
Sisa hujan semalam
Dan jalanan kota yang licin basah karena hujan
dan terselimut pendaran cahaya lampu yang redup

Tak pernah kau jawab tangisku
Kau hanya bergerak meminjamkan bahumu
Untukku melepaskan bulir kristal ini dari ikatan mataku
Tanpa pernah bertanya kenapa

Senyummu menyakitkan!
Menghancurkan tanpa bekas
Meninggalkan tanpa jejak
Membuat tubuh ini jatuh satu persatu
Dan mati. . .

Hujan

aku jatuh cinta …
Pada hujan
jangan coba meminta ku membuka payung ketika hujan turun
tidak akan aku lakukan,

aku suka,
meresapi hujan
menengadah meleburkan pandangan
ke langit yang mendung
merasakan tiap tetesan rintik hujan pada wajah
yang kadang bersatu dengan bulir air mata

aku suka,
memperhatikan hujan dari balik kaca
duduk di pinggir jendela dengan tirai putih sutra
dan ujung jari menempel pada kaca.
perlahan ikut menyusuri buliran air hujan
Yang jatuh lambat bergerak
Begitu dekat - tak berjarak

aku suka
Berbisik pada hujan
membagi kisah hidup
mencoba mengerti arah yang ditunjuk angin

berdiskusi dengan hujan
membiarkan pemikirannya masuk ke dalam pemikiranku
sehingga dapat mereformulasi
tatanan mind set yang menggumul di pikiranku
lalu melarutkannya dalam kehidupan ku

saat ini...hujan...
kau lihat?
aku berdiri disana dibawah ujan
melebur dengan alam...

K.O.S.O.N.G

Semalam,
gerimis pecah jatuh menggericik bumi
sementara ranting gemeretak beradu satu sama lain
menemani angin yang mengapung membelah kelam
hingar bingar yang disebabkan oleh alam tampak senyap
dari kaca jendela kamar

Semangkuk keripik kentang,
Sebungkus rokok
Dan secangkir kopi yang telah habis seperempatnya
Menjadi teman setia tadi malam

Dalam bauran temaram dingin
aku masih disini
Di dekat jendela
Terpekur memandang rintik hujan yang senyap

Tiba-tiba jari jemari yang telah siap menceriterakan
Segala sesuatu yang dirasakan batin
Menjadi bisu gagu
aliran darah bergejolak menghantarkan
Satu kata ke otak;

BLANK

Kosong, sangat kosong.
Sepertinya jiwa dan pikiran ku terhisap sesuatu
Sehingga hanya dapat memandangi monitor
Tanpa sadar harus menuliskan apa
Menghela nafas dirasakan mungkin dapat dijadikan pelarian sementara
Untuk mendapatkan inspirasi
Tapi hasilnya,
Nihil.

aku mulai meraih bungkus rokok dan mengeluarkannya satu
Menyulutnya dengan pemantik antik pemberian seseorang
Terdengar bunyi kertas kalkir yang terbakar disusul tercium bau tembakau yang terbakar
Sejurus kemudian terbentuk lingkaran asap tipis
Yang terhembus dari bibir ku
Berharap kekosongan ini menyublim
Tapi hasilnya,
Nihil.
Sepertinya tuhan telah menarik seluruh tulang dari tubuh ku
Hingga tak menyisakan penopang lagi,
meninggalkan tubuh ku menjadi seonggok daging busuk tak berguna
yang terduduk lemas memandang kosong langit-langit kamar

Entah sudah keberapa kali dalam hidup ku
aku merasakan kekosongan.
Menyerang begitu saja tanpa kompromi terlebih dahulu
Bahkan ketika aku ditengah keramaian
Hingar-bingar, masih saja kadang kekosongan itu kembali datang
Tanpa mengetuk terlebih dahulu

Sesuatu kosong pada diri ku
Tapi entah apa
Berharap bisa mengisi kekosongan itu
Lewat tulisan sebagaimana biasanya
Tetap saja,
Kosong.
I hate this situation...
terlalu kosong...

Mungkin yang absolutis

Mungkin kamu adalah sepotong pizza
Yang kerap kali membuat ku mual jika melahapnya terlalu banyak

Mungkin kamu adalah mahkluk mars
Yang tidak akan pernah terjamah nalar pikiranmu di pikiranku

Mungkin kamu adalah pawang hujan
Yang mampu menahan hujan turun dalam hidup ku

Mungkin kamu adalah lelehan coklat sedap
Yang mampu menghangatkan hari dinginku

Mungkin kamu adalah sinar mentari pagi
Yang selalu setia menyapa setiap pagi dari sela-sela gorden jendela kamar

Mungkin kamu adalah klakson mobil
Yang selalu memekakkan telingaku

Mungkin kamu adalah embun
Yang setiap pagi menyapaku di ujung sehelai daun

Mungkin kamu adalah kutu kecil di balik bantal
Yang selalu berhasil membuatku menggaruk kepala


Denhaag, June 15th 2009

Hero

Our love is everlasting
I just wanted you to know.
That you’re my special hero

He is not the kind of hero who is fighting in the war
But he's a hero who is fighting for the best thing that he could give to me in my life
My father

Dad...
He wasn't a hero,
Known by the world.
But a he was a hero for me...

Dad...
He is the fixer of my broken things,
and the household doctor when I get bee stings.

Dad...
He picks me up when I fall down.
And always turns my frown upside down.

Dad...
He keeps me safe when I sleep at night.
He gives me seconds when I have a big appetite.

Dad...
That's my Dad, that's who he is.
He deserves a medal for the things he did.

Dad...
He taught me life's lessons,
of right from wrong.
And instilled in me values,
that I might be strong.

Dad…
And so through the years,
like a hero he stood.
Working to give,
all that he could.

Dad...
He is my best friend ever
I want to thank you from my heart,
I believe that nothing could ever tear us apart.
I love u dad!!

Antroheart'ology

Ruang
Dan waktu
Telah menjembatani engkau dan aku

Bibirnya diam.
Tetapi mata cokelat mudanya yang tampak indah
Di bawah pendaran cahaya jingga sinar matahari senja
Telah bercerita banyak.

Bibirnya diam.
Tetapi sentuhan hangat kulitnya lewat genggaman tangannya
Telah berkata banyak.

Bibirnya diam
tetapi helaan nafasnya yang menjalar hingga ke tengkukku
Telah berkisah banyak

Bibirnya diam.
Tetapi pelukan nya yang menenggelamkan aku
Telah mengisyaratkan banyak

Tidak perlu banyak lisan
Seluruh dirinya telah mengatakan dengan jelas
“aku mencintaimu…”

Tangisan

Tuhan,
aku benci setiap kali ada kebocoran yang menyebabkan setitik air harus keluar jatuh dari ujung mataku. Aku benci karena betapapun hebatnya James Watt menemukan mesin uap atau Samuel F.B. Morse yang menemukan telegrap ataupun Williarn Sturgeon yang menemukan electromagnet atapun manusia sekelas Wilhelm Conrad Rontgen yang menemukan sinar rontgen dan Alfred Nobel yang menemukan dinamit dan Irving Langmuir yang menemukan kawat pijar tetap saja sampai saat ini belum ada satu manusia di dunia ini yang berhasil menemukan penambal kebocoran yang satu ini.

Denhaag, june 13th 2009

Tetaplah menulis, untukku

Dia bilang
Dia ingin berhenti
Berhenti menulis
Dan bercerita

Dia bilang
Dia siap
Siap meletakan penanya
Dan mengatup rapat bibirnya

Dia bilang
Begitu banyak hal yang sulit dimengerti
Dan begitu sulit mengerti banyak hal

Dia bilang
Dirinya lelah
Peluhnya sia-sia
Menarik nafas panjang
pun tak ada gunanya

dia bilang
percuma menulis
percuma bercerita
jika kenyataannya di ujung penantian panjang ini
dia akan menemukan satu kenyataan;
Kepahitan..!!

Hei!
tidak ada satupun hal di dunia ini yang sia-sia
jadi,
jangan berhenti

aku masih menunggu
menunggu tulisanmu
menunggu ceritamu

teruslah...
teruslah menulis
teruslah bercerita
tentang aku
hanya aku
seperti yg biasa kau lakukan

Hari ini bukan hari senin

Bayang langit memecah terakota. Jingga cahaya matahari yang merayap digeraikan indah melalui ranting pohon angsana yang berdiri berjajar di pinggir jalan, seperti sajak hambar. Beberapa bocah yang berlepotan keringat sedang asyik saling merebut bola sepak di jalanan mengacaukan sistem lalu lintas jalan. sesekali saling menyikut lalu tertawa ngakak.

Sebuah café kecil yang rindang dan sejuk yang berada dipinggir jalan, masih berdiri tegap diantara hutan beton kota jakarta yang berlomba-lomba menyentuh langit. walaupun di beberapa bagian tidak dapat menyembunyikan bangunan tersebut dari keusangan yang dimakan waktu.

Dan aku disini…

Ditempat pengasinganku, tempatku melarikan diri dari kepenatan jelaga hidup. tempatku menghabiskan waktu untuk berhenti, berpikir dan merenung. Diantara jejeran kursi dan meja yang terlihat reyot dan lapuk. walaupun telah dicat ulang tetap saja tidak bisa menyembunyikan gurat-gurat tuanya yang menanggung beban dan menjadi saksi bisu atas percakapan ratusan orang yang pernah singgah di dalamnnya.

Seperti biasa, babeh –begitua aku sering memanggilnya- si empunya café, Masih seperti biasa tersenyum ramah menyambut tamu yang belum banyak berdatangan yang biasa singgah ditempatnya untuk sekedar mencicipi the khas racikannya yang menjadi ciri khas café yang sudah berpuluh tahun berdiri ini.

Dan seperti biasa aku melayangkan pandangan ke sekeliling melihat hal yang seperti biasanya terjadi

Perempuan itu duduk sendirian di pojokan kafe sesekali membenarkan letak leher kemeja abu-abunya. Disesapnya secangkir kopi yang telah habis setengahnya perlahan. Ada senyum tipis di bibir merah jambunya. Pandangannya yang kosong menerawang jauh ke luar kendela menyaksikan angin yang berhembus kencang yang menampar-nampar tubuh pejalan kaki. Perlahan bibir tipisnya itu bergerak, seperti sedang berbicara pada seseorang

Aku biarkan penglihatanku larut dalam gerak wajahnya.

Seorang lelaki tua yang kurus dan telah memutih seluruh rambutnya itu masih terduduk di bangku dekat pintu masuk memetik gitar tua kesayangannya.

3 hal tersulit

Menurut saya ada 3 hal yang sangat sulit dilakukan dalam hidup ini. Sungguh sangat sulit, karena berhubungan dengan hati dan kau tau segala sesuatu kalo udah berhubungan dengan hati akan terasa sulit dan berat

Memaafkan, mengucapkan terima kasih, dan jujur pada diri sendiri
Itulah hal tersulit menurut saya. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang sangat mudah tapi tidak bagi saya karena 3 hal ini membutuhkan hati yang kuat untuk memproklamirkan dan mengakuinya.

Sangat sulit memaafkan seseorang yang sudah mencabik-cabik perasaan dan memporak-porandakan pondasi kepercayaan.

Sangat sulit mengucapkan kata “terima kasih” yang tulus pada orang yang melakukan sesuatu yang istimewa di hidup saya.

Dan sangat sulit jujur pada diri sendiri. mulut dan hati pun kadang tidak berkorelasi sehingga mampu berkata beda.

Diperlukan kebesaran dan kelapangan hati untuk melakukan 3 hal tersebut, saya telah belajar bahwa manusia bukan mahkluk sempurna, yang bisa merasa sakit hati hingga terkadang sulit untuk memaafkan.

Tapi Allah swt saja maha pemaaf. mampu memaafkan kesalahan umaNya sekecil atau sebesar apapun kesalahan yang dibuat umatNya. selalu ada pintu maaf yang terbuka untuk setiap umatNya. lantas kemudian saya berpikir kenapa kita sebagai manusia tidak mampu memaafkan sesama?? Apa karena kita bukan tuhan? Tapi tuhan mengajarkan untuk saling memaafkan.

Hidup ini adalah proses pembelajaran. Jadi terimalah teorinya dan praktekan. walau terkadang praktek lebih sulit ketimbang teori!!

saya sadar bahwa kadang begitu susah untuk mengucapkan kata
“terima kasih”
Entah apa karena rasa malu, takut, gengsi atau lupa, kemudian menjadikan “terima kasih” menjadi kata yang kaku untuk dikeluarkan dari bibir ini. saya tau, sudah banyak orang yang melakukan hal baik di hidup saya yang membawa perubahan dalam sikap saya hingga menjadi lebih dewasa. Mereka; keluarga, pacar, sahabat, teman bahkan musuh. ya mereka semua mempunyai andil melakukan hal baik dalam hidup saya.
ya, terkadang saya lupa untuk sekedar mengucapkan kata “terima kasih”...sebuah kata yang membuat setiap orang pasti merasa dihargai. sampai percayakah kamu terkadang bahkan susah untuk mengatakan “terima kasih Tuhan...”

Terkadang saya menemukan diri saya berbohong. Berbohong pada diri saya sendiri. saya enggan mengakui perasaan yang saya rasakan, berpura-pura rasa itu tidak pernah terjadi Ya, saya sudah berbohong pada diri saya sendiri. sampai akhirnya ketika saya pernah merasakan kehilangan saya pun enggan untuk jujur dan mengakui

Kini saatnya saya berhenti Sejenak untuk, merenung, Melamun, Dan menyusun. Tidak pernah salah suatu introspeksi diri. Memutar otak untuk mendapatkan cara agar saya bisa untuk ikhlas memaafkan, Berani mengucapkan “Terima Kasih” Dan jujur pada diri sendiri. Dan caranya adalah melapangkan hati seluas angkasa

Independency

I’m so confused of this situation.”

“u’re getting confused? Ha-ha. I think mostly of men sometimes are kind of confused when a woman try to get too independent!”

“So? Do u means that I have no right to be independent girl?”

“Look, u said that u tried to be independent rite? I tell u something, u’re allow to be independent girl but if u wanna know guys do really need girls to be dependant on them, but remember as long as not too dependant. A guy is made to love, to protect, and to support! So be independent but do not show too much independency”

_

Terdengar hembusan nafas panjang yang lelah
_

[diam.]

percakapan terjadi di dalam restoran yang berada di sebuah mal.
ice lemon tea-ice cappucinno-melted cheese fries-2 manusia umur pertengahan 20an.
Manchester, awal juni 2009

Rendevouz

Saya tertegun.
Pandangan saya menembus gelas berisi strawberry punch yang berdiri menantang dihadapan saya yang sama sekali belum terjamah. Minuman yang sangat tidak cocok di cuaca sedingin ini.

Dia pun diam. Sesekali asyik memutar-mutar sendoknya. Mengaduk kopi hitam pekat dalam cangkir yang telah habis setengahnya, berharap mendapat pencerahan dari dalam kopinya.

Mata coklatnya yang pias bertemu mata ku. Lalu dengan suara renyahnya yang seperti biasa, dia mampu mencairkan kebekuan sesaat ini. “I miss you…” Kami tertawa bersama.

Pertama kali. Setelah melewati 3 tahun yang menjemukan, yang sempat menyesatkan kami dalam belantara nama dan rupa. Dan kini lewat sebuah pertemuan tak terencana yang direncanakan tuhan, kami duduk bersama berdua melintasi stigma waktu yang sanggup mengubah luka menjadi pualam dan membekukan air mata menjadi kristal garam.

Selalu ada senja yang panjang untuk sepotong percakapan.

Segala sesuatu telah berubah dalam 3 tahun ini Kami pun mempunyai persepsi berbeda dan tak mungkin menzinahi ideologi kami masing-masing Suatu keyakinan yang kami percayai meretas dari tekanan dua orang yang berani menjadi gila.

Lantas kami mulai menertawai dunia karena menemukan kenyataan bahwa gravitasi belum tirus bautnya tetapi dunia sudah mulai jungkir balik.

Percakapan kami mengembara kembali Menghadap horison tempat matahari terbenam Mengulang kisah, membangkitkan serpihan kenangan Ketika jiwa muda kami menjunjung tinggi kenaifan.

Kau tahu?
Kami pernah mencari tuhan, Bersama melewati proses pencerahan. Mencari tuhan dalam tumpukan buku keagamaan Yang bernilai lima belas ribu rupiah. Lantas dapatkah kami menemukan tuhan dengan hanya membayar sebesar lima belas ribu? Tidak, It’s priceless…

Kami pun pernah mencermati hidup Berpikir betapa kami sering kali mengkonsumsi apa yang sebenarnya tidak kami butuhkan Menyerap sesuatu yang nantinya perlahan ditolak tubuh Dan kemudian mengalirkannya pelan dari pori-pori jiwa.

Lantas berpikir mengapa kami diciptakan? Dan untuk apa kami diciptakan? Sebuah pertanyaan filosofis yang sebenarnya tak perlu pemikiran keras untuk memutar otak mencari jawabnya tetapi justru hanya mempersilahkan waktu untuk membuktikan.

Kami begitu muak dengan pakem hidup yang sederhana Lahir, hidup sambil pamrih pada tuhan, lalu mati. Tanpa melakukan hal untuk diri sendiri.

Pernah kami tidak dapat menahan efek emosionil Yang tidak sempat tertangkap kelopak mata karena terjebak labirin poliamori Mencaci maki dan menistakan pelaku poliamori Tanpa sadar bahwa kami adalah salah satu lakon didalamnya. Disana pun kami bertemu iblis yang menangis tersedu seperti anak kecil Berharap untuk dicintai, edan!!

Kami saling mencintai. Dan itu sempat membuat sekitar kami Mempertanyakan keotentikan gender kami. Mereka membuat persepsi salah, Karena kami sepasang perempuan yang saling mencintai dan menyayangi.

Jangan salah! Bukan berarti kami memproklamirkan diri menjadi bagian dari salah satu komunitas kaum lesbian tidak, tidak seperti itu…Cinta kami tulus Seperti cinta guru kepada anak didiknya, kakak pada adiknya, orang tua pada anaknya dan tuhan pada umatnya. Bukan cinta nafsu yang melegalkan kata pasangan sejenis.

Jangan kuatir kami masih normal. Kami masih menyukai lelaki dan mempunyai nafsu untuk memacu adrenalin bersenggama dengan lelaki hingga berpeluh dalam sunyinya malam walaupun itu hanya lewat sebuah sentuhan.

Kami bersama-sama mencari apa yang terdapat dari sebuah kebenaran dan lantas tercenung karena mendapati bahwa tidak ada yang otentik dari sebuah kebenaran karena kebenaran itu sendiri adalah sebuah kebenaran tanpa mengurangi nilai di dalamnya.

Dan pada akhirnya kami tidak mau sia-sia membatang arang seperti sisa api yang hendak padam. Kami juga tidak mau menyita waktu susuri langit hingga ke tepi karena kami tahu langit tak bertepi.

Let love ourself

Engga percaya!
Itu 2 kata yang terlintas di otak gw ketika
gw diberi kabar bahwa temen gw, Chilla
masuk rumah sakit karena Eating disorder
asli engga menduga banget euy dia mengidap eating disorder
baru kemaren ke kampus bareng
skrg dia udah dirumah sakit ck ck
Chilla mengalami Eating disorder dan mengidap bulimia
Yaitu mengorek mulut hingga muntah
agar makanan yang baru dimakan keluar kembali
beratnya turun dari 61 kg menjadi 39 kg dengan tinggi 171
bisa dibayangkan...tulang terbungkus kulit
dan itu disebabkan karena dia ingin menjadi langsing dan menarik
Chilla
yang gw tau seperti kebanyakan temen2 gw
yang berjenis kelamin perempuan
Selalu mengeluhkan hal yang menurut gw tidak penting
Dan tidak berbobot untuk menjadi salah satu wacana yang layak dibahas
ingin rasanya gw mencelat bola mata mereka
dengan jari jemari gw
agar dia benar-benar buta,
karena dengan kornea mata yang masih berfungsi baik untuk melihat
pun ternyata mereka sebenarnya sudah buta!

Tidak ada yang lebih konyol daripada hal dungu yang mereka lisankan kelebihan berat badan, kulit yang gelap, gaya busana, dan menjadikan hal tersebut momok dalam kehidupan mereka yang terus mengejar dan menghantui mereka. akhirnya semua hal itu hanya akan menyakitkan diri, jiwa dan hati mereka sendiri

Gw yang terlahir dan diklasifikasikan ke dalam spesies mengagumkan berlabel perempuan pun tidak pernah memusingkan wacana yang dipergunjingkan temen gw. buat gw masih banyak hal yang harus diselami dan dipahami ketimbang menyoalkan masalah kelebihan berat badan dan lainnya

Apa sih definisi cantik?
Kulit putih
Rambut panjang
Badan langsing
Dada besar
Bokong besar
Apakah ini yang bisa disebut cantik??

Apakah dari hal tersebut maka perempuan bisa diklasifikasikan kedalam kategori cantik vs tidak cantik
Menarik vs membosankan? Lantas dimana posisi otak, pengetahuan dan manner? Apakah nasibnya berakhir mengendap memenuhi karung-karung sampah di depan rumah kita? Berapa lama lagi kita dibodohi pemikiran dangkal seperti ini? Hal dungu itu dimotori oleh produsen produk kecantikan yang sama dungunya. Beberapa waktu lalu gw tertawa melihat iklan salah satu krim pemutih wajah made in taiwan yang saat ini sedang wara-wiri iklannya di beberapa stasiun televise kita. Scene pertama menghadirkan artis lelaki yang lagi naik daun dengan jargonnya “buat saya perempuan yang cantik itu yah yang putih kulitnya” Mulai deh scene ganti trus ada model sinetron yang yang jadi ikonnya tu produk muncul trus bilang
“dengan (bla bla) anda dapat memiliki kulit yang lebih putih, bla Bla) rahasia kecantikan kulit wanita asia”
Ada lagi iklan yang menceritakan ada perempuan dengan berat badan berlebih (gendut!) digambarkan murung dan malu karena kelebihan berat badan sementara perempuan yang bertubuh langsing melangkah pasti dengan percaya diri, bahagia “makanya minum (bla bla) biar langsing kaya aku” lagi-lagi iklan yang sangat jelas membohongi publik!!! Human Rampaign!! Menyesatkan dan membodohi!!!

dan tanpa sadar semesta kecil yang ada dalam diri kita diinvasi secara diam-diam oleh industri kapitalis dunia fashion dan kecantikan Yang menstigmakan sosok perempuan muda Tinggi, putih, langsing, berambut panjang Berdada besar dan bokong besar layaknya barbie sebagai ikon mode dunia
lagi-lagi persepsi yang salah telah beredar di masyarakat!! Belitan realitas inilah yang masih mengikat kita Memasung kita dalam sekat-sekat sosialisasi

Lantas kemana perempuan-perempuan berkulit gelap?? kemana perempuan-perempuan dengan bobot badan berlebih? kemana para perempuan yang hidup dengan ketidak sempurnaan fisik? Apa mereka terbuang begitu saja dan dianggap sebagai ancaman polusi visual?

Cantik yang kebanyakan orang bilang Yang selalu diukur dari neraca fisik Pada dasarnya akan segera menguap Itu adalah harga mati yang telah diketahui semua orang

selama kita merasa sehat dan bahagia, kita sudah menjadi cantik.
kesuksesan seseorang bukan dinilai dari cantik fisiknya
karya seseorang pun dihargai bukan dari kecantikan fisiknya

Buat gw cantik itu adalah
menghargai hidup dan menempatkan segala sesuatu tepat pada hakikatnya sederhana dan tidak berlebihan.

mereka yang bodoh berlomba menjadi cantik secara fisik, (operasi plastik, sedot lemak, suntik putih,dan bla bla sebagainya) seakan cantik adalah esensi hidup yang harus diperjuangkan. Mereka buta! esensi hidup itu bukan tentang cantik fisik esensi hidup menurut gw adalah menjadi diri kita sendiri untuk dapat memberikan yang terbaik dari diri kita agar melakukan sesuatu yang berguna, memberikan kebaikan pada orang lain dan menginspirasi orang lain.

Tuhan, Keluarga, Sahabat, dan pacar tidak pernah menolak diri kita Lantas kenapa kita menolak diri kita sendiri yang merupakan anugerah terbesar yang harus dijaga dan dinikmati? Sekeliling kita terlalu mencintai kita apa adanya dan menerima kita dengan segala kekurangan kita Lantas kenapa kita tidak mulai mencintai diri kita apa adanya? Selama masih hidup mari berkawan akrab dengan Hangat sinar matahari sejuk air hujan Hembusan angin malam Tanpa harus bersusah payah menghindarinya hanya karena takut Menjadi hitam kulitnya, menjadi luntur make-upnya atau menjadi berantakan rambutnya

Kuncinya adalah bangga menjadi diri sendiri Dan selalu mengingat bahwa kita dilahirkan berbeda dan berwarna Setiap manusia sesuai dengan porsinya masing-masing telah mempunyai ke khas-an Jangan biarkan diri kita tenggelam dalam ilusi kolektif ikon kecantikan dunia Yang ternyata bersifat destruktif!
Mari cintai diri kita apa adanya...

Dalam sebuah catatan perjalanan

Sepi yang kesepian turun berjingkat perlahan dari Montparnasse
Mencari teman serupa mondar-mandir dibawah gedung tua
Bayang langit memecah terakota
Senja telah begitu tua

Di muka kaca aku berdiri

Sebuah keheningan yang bangkit menyeruak keluar dari luka
Seseorang yang lama terlupa
Diam-diam menyelinap masuk ke dalam mimpi
Dan mengendap bagai sisa kopi di cangkir
Mengukuhkan diri bahwa dia masih memegang peringkat pertama
Di kategori terbaik

Dia dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai
Mata yang besar berbinar
Dan senyum yang selalu

Hari ini
Aku melihatnya kembali,

Namun kali ini ku ketemukan ia dalam wajah yang muram
Dengan sebuah titik air di ujung mata