Rabu, 17 Juni 2009

Hari ini bukan hari senin

Bayang langit memecah terakota. Jingga cahaya matahari yang merayap digeraikan indah melalui ranting pohon angsana yang berdiri berjajar di pinggir jalan, seperti sajak hambar. Beberapa bocah yang berlepotan keringat sedang asyik saling merebut bola sepak di jalanan mengacaukan sistem lalu lintas jalan. sesekali saling menyikut lalu tertawa ngakak.

Sebuah café kecil yang rindang dan sejuk yang berada dipinggir jalan, masih berdiri tegap diantara hutan beton kota jakarta yang berlomba-lomba menyentuh langit. walaupun di beberapa bagian tidak dapat menyembunyikan bangunan tersebut dari keusangan yang dimakan waktu.

Dan aku disini…

Ditempat pengasinganku, tempatku melarikan diri dari kepenatan jelaga hidup. tempatku menghabiskan waktu untuk berhenti, berpikir dan merenung. Diantara jejeran kursi dan meja yang terlihat reyot dan lapuk. walaupun telah dicat ulang tetap saja tidak bisa menyembunyikan gurat-gurat tuanya yang menanggung beban dan menjadi saksi bisu atas percakapan ratusan orang yang pernah singgah di dalamnnya.

Seperti biasa, babeh –begitua aku sering memanggilnya- si empunya café, Masih seperti biasa tersenyum ramah menyambut tamu yang belum banyak berdatangan yang biasa singgah ditempatnya untuk sekedar mencicipi the khas racikannya yang menjadi ciri khas café yang sudah berpuluh tahun berdiri ini.

Dan seperti biasa aku melayangkan pandangan ke sekeliling melihat hal yang seperti biasanya terjadi

Perempuan itu duduk sendirian di pojokan kafe sesekali membenarkan letak leher kemeja abu-abunya. Disesapnya secangkir kopi yang telah habis setengahnya perlahan. Ada senyum tipis di bibir merah jambunya. Pandangannya yang kosong menerawang jauh ke luar kendela menyaksikan angin yang berhembus kencang yang menampar-nampar tubuh pejalan kaki. Perlahan bibir tipisnya itu bergerak, seperti sedang berbicara pada seseorang

Aku biarkan penglihatanku larut dalam gerak wajahnya.

Seorang lelaki tua yang kurus dan telah memutih seluruh rambutnya itu masih terduduk di bangku dekat pintu masuk memetik gitar tua kesayangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar