Malam belum lagi redup
Tapi embun kental pagi ini menyeretku tenggelam
Dalam arus sunyi yang beku
Secangkir coklat hangat yang menemani pun tidak mampu cairkan hawa angkuh
Dia berdiri di pinggir tebing
Memandang lampu kota yang belum padam
Dengan rambut hitamnya yang berkilau ditempa cahaya bulan
Rupanya malam telah menyerap habis darahnya
Hingga menjadikan pucat kulitnya
Memandanginya
Dibawah pendaran cahaya bulan yang sunyi
Kau bangun lorong panjang yang pengap serupa labirin
Kau biarkan aku tersesat didalamnya
Kehilangan arah…
Percuma mencari petunjuk tentangmu
Kau tetap tak terpecahkan
Sebuah rahasia hidup didalammu
Siapakah kau?
Masih terasa getar bau tanah
Sisa hujan semalam
Dan jalanan kota yang licin basah karena hujan
dan terselimut pendaran cahaya lampu yang redup
Tak pernah kau jawab tangisku
Kau hanya bergerak meminjamkan bahumu
Untukku melepaskan bulir kristal ini dari ikatan mataku
Tanpa pernah bertanya kenapa
Senyummu menyakitkan!
Menghancurkan tanpa bekas
Meninggalkan tanpa jejak
Membuat tubuh ini jatuh satu persatu
Dan mati. . .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar